Tampilkan postingan dengan label Ngocol Serius niiiii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngocol Serius niiiii. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Januari 2011

SAYA PUNYA ALASAN UNTUK ITU

Kemaren sepertinya menjadi salah satu hari kelabu bagi Indonesia. Hal ini dikarenakan dalam satu malam, telah terjadi dua kecelakaan transportasi yang semakin menambah rentetan panjang kecelakaan2 besar di Indonesia selama kurun waktu 1 tahun belakangan ini. Salah satu kecelakaan tersebut yaitu peristiwa terbakarnya kapal Roro Teduh II di Selat Sunda (Merak-Bakaheuni). Kapal yang mengangkut kurang lebih 450 penumpang tersebut terbakar setelah 45 menit berlayar meninggalkan Pelabuhan Merak, Banten. Diduga api berasal dari sebuah bus yang parkir di dek dasar.
Berita terbakarnya kapal Roro Teduh II tanggal 28 Januari 2011

Pada posting kali ini, saya tidak ingin melakukan kritisisasi terhadap keadaan transportasi di Indonesia. Ataupun ingin memperlihatkan sisi skeptifitas saya melalui pertanyaan2a yang menyudutkan pemerintah. Itu tidak akan saya lakukan, OKE!. Jadi, tenang saja pemerintah! Nikmati saja plesiranmuuuu. Saat ini saya sedang menikmati masa SELO yang panjang, jadi saya tidak mau berpikir terlalu berat. Lagipula saya juga bukan seorang kritikus politik (yang menurut saya cuma bisa ngomong doang. Kalo disuruh terjun dan ngerjain langsung, eh dia sendirinya malah bingung *menurut saya lho!)

Back to topic, saya cuma mau berbagi cerita mengenai awal mula mengapa saya tertarik pada bidang jurnalistik dan akhirnya memilih jurusan Ilmu Komunikasi sebagai latar belakang pendidikan. Kejadian terbakarnya kapal Roro Teduh II yang sempat saya bahas sekilas di atas tadi, kembali membuka kenangan dan me-rewind memori saya pada kejadian 4 tahun yang lalu. Tepatnya tanggal 22 Februari 2007 terjadi sebuah kecelakaan terbakarnya kapal Levina I pada saat hendak menyebarangi Selat Sunda. Kejadiannya hampir sama, api diduga berasal dari kendaraan yang parkir di dek bawah kapal. Peristiwa tersebut memakan lebih kurang 50 korban jiwa. Namun naasnya, kejadian tidak berakhir di sana saja. Pada tanggal 25 Februari 2007, bangkai kapal yang memang sudah dalam kondisi parah tersebut karam di saat petugas KNKT dan beberapa wartawan naik untuk melakukan investigasi. Kapal Levina I kembali memakan korban, termasuk di antaranya orang dua orang wartawan, kameraman Lativi dan SCTV (Moh. Guntur)
Berita tenggelamnya bangkai kapal Levina I tanggal 25 Februari 2007

Yang membuat saya benar-benar tersentuh adalah cerita dari teman sesama wartawan (reporter Indosiar klo gak salah) yang sempat ikut tenggelam bersama 2 orang korban tapi segera diselamatkan oleh tim SAR. Menurutnya, pada saat kejadian, Guntur (korban, kameraman SCTV) sempat berpegangan pada besi kapal dengan sebelah tangannya. Dan sebelahnya lagi tetap memegang kamera. Guntur sempat mengatakan bahwa ia tidak berenang. Reporter Indosiar itu pun menyuruh agar Guntur melepaskan kamera agar bisa berpegangan kepadanya. Tapi ia tidak mau, dan akhirnya ia pun ikut terbawa pusaran kuat air laut pada saat bangkai kapal Levina tenggelam. Menurut istrinya, Guntur begitu memegang teguh tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Hal inilah kiranya yang membuat Guntur tetap mempertahankan tanggung jawab (kameranya) yang berikan walaupun harus nyawa taruhannya. So sweet!! Andai ada banyak Guntur di Indonesia, mungkin negara tidak akan seperti ini ya?!
"Seorang jurnalis sejati adalah mereka yang gugur pada saat menjalankan tugas. And he is the one of them"

Inilah yang membuat saya hingga detik ini masih tetap bertahan melanjutkan studi di jurusan Ilmu Komunikasi ini. Keinginan yang kuat untuk menjadi kameraman 'budiman' *aseeeekkk- ato paling tidak, seorang jurnalis handal membuat saya terus berusaha memberikan yang terbaik. *saya juga harus belajar renang, supaya peristiwa di atas gak kejadian #random abis* Walaupun saya harus "membayar" mahal *emang mahal sih- untuk mewujudkan mimpi tersebut karena tidak jarang rasa jenuh akan selalu datang menjelang dalam proses menuju ke sana.
My Dreams. semoga come true. Amin..

Tapi saya yakin, saya bisa!! *Amiiinnn.. Karena hanya dengan mimpi, hidup akan terasa berharga untuk diperjuangkan. Benar tidak? :))

Sekian posting saya. Sampai jumpa diposting2 berikutnya. Caaaaa...

Selasa, 25 Januari 2011

STORY BOARD VIDEO KLIP 2

Nah,,, ini diaa... Saya akan lampirkan liriknya dulu ya,,:

PACARKU MANIS
pacarku manis//sedang menangis//
air matanya//dibuang habis//
dia menangis//
Huuuuuu….//
pacarku minta//baju yang tipis//
buatan baru//negeri inggris//
aku meringis//
Iiiiiisss…//

abang sayang//ku mau baju yang tipis//
jangan adik//kau cantik berkebaya//
tidak abang//ku minta baju yang tipis//
jangan adik//kau bukan kue lapis//

VISUALISASI
  1. Si pria berusaha menenangkan si wanita tersebut. Namun, si perempuan tetap menangis. Kemudian ia memukul-mukul manja pria tersebut.
  2. Menyorot ke arah pria yang sedang mengamati majalah fashion. Di majalah itu terdapat sebuah baju ala barat yang transparan dan seksi. Lalu si pria memasang tampang cemas.
  3. Si pria mulai kewalahan dan kehabisan cara untuk menenangkan si wanita. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pertanda bahwa dirinya bingung dan kehabisan akal.
  4. Ekspresi cowok termenung; membayangkan kejadian yang sebelumnya terjadi.
  5. [Flash Back]
  6. Tampak sepasang kekasih sedang bermesraan di ruang tamu.
  7. Si perempuan menunjukkan sebuah model baju yang terdapat di dalam majalah tersebut kepada si pria.
  8. Si pria memasang wajah penolakan tanda tidak setuju kepada si perempuan. Ia pun mengibaratkan baju tersebut seperti sepiring kue lapis yang tengah ia makan.
  9. Si perempuan marah dan melempar piring berisi kue lapis ke wajah pria tersebut


Hahaha,, itulah kira-kira hasilnya. Karena ini storyboard, jadi sebenarnya cuma kumpulan foto semata. Namun akibat ke-SELO-an saya, akhirnya saya berinisiatif untuk membuat videonya. Walaupun cuma pake movie maker doang. hehehe..

Semoga memberikan inspirasi untuk berkarya. Hidup Pemuda Indonesia!!

STORY BOARD VIDEO KLIP 1

Saya benar-benar SELO ternyata... Liburan baru jalan 3 hari, tapi sudah bosen tingkat akut. Gak tahu mau ngapain. Daripada keluyuran gak jelas sehingga rentan menjadi sampah masyarakat, mending nyampah di-blog aja #random

Pada posting kali ini, saya mau sedikit berbagi pengetahuan yang saya dapat dari mata kuliah Sinematografi. Sejujurnya, saya tidak begitu mendapat pencerahan selama proses perkuliahan kemarin. Hal ini mungkin dikarenakan pak dosen begitu SANGAT AMAT memberi "kebebasan" pada mahasiswanya mencari tahu dunia film dengan terjun langsung ke lapangan. Walaupun hal ini malah terlihat seperti sang dosen tidak menguasai apa yang dia ajarkan (*piss pak dosen) karena saya benar-benar tidak mengerti apa yang dia jelaskan. Oleh karena itu, saya lebih banyak mendapat ilmu dari teman-teman seperjuangan saya mengenai apa itu Storyboard, Treatment, Sinopsis, Script, dan istilah-istilah lain dapat perfilman.

OKE,, Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai istilah-istilah film yang disebutkan di atas karena pastinya sudah banyak situs yang lebih expert yang dapat menjelaskan istilah tersebut. Saya cuma mau sedikit membagi hasil karya yang telah berhasil menghabiskan waktu saya selama dua minggu kemarin.

Jadi, untuk memenuhi nilai tugas akhir semester 5 Sinematografi, saya disuruh bikin storyboard dari video klip "Pacarku Manis" by Bimbo. Sudah pernah denger lagunya belum?? Lagunya memang sungguh sangat jadul. Menurut asumsi saya, ada beberapa alasan mengapa sang dosen memberi opsi lagu tersebut. Pertama, karena dosen saya yang memang sudah "berumur" (baca;tua) hehehe. Ato karena sebuah misi ingin menghancurkan masa "remaja" saya yang indah dengan lagu-lagu jadul bermelodi mendayu-dayu yang memancing gelora muda kita untuk minum tinta printer *percobaan bunuh diri #eeeeaaaaaa.

Back to topic,, jadi lagu 'Pacarku Manis' itu cerita tentang seorang cewek yang merengek meminta baju tipis kepada sang pacar. Namun, sang pacar (cowok) menolak karena lebih menyukai ceweknya memakai pakaian yang tertutup. Secara garis besar, begitulah intinya. Untuk membuat video klipnya, saya harus berimajinasi secara liar bagaimana visualisasi yang baik untuk membuat video klip yang yahud. Saya membuat video klip dengan alur bolak-balik. Jadi pada tengah cerita tiba-tiba balik ke kejadian sebelumnya. Dan hasilnya,, TARAAAAAA!!!!

Lumayan laaaahhh,, Walau amatiran, yang penting usaha. Pada posting berikutnya saya akan memperlihatkan visualisasi video klipnya. Sabar yaa.. :)

Oh yaaa,, sebelumnya, saya akan kasih lagunya dulu... Selamat menikmati :) klik di sini

Selasa, 16 November 2010

IRONI PENGUNGSI MERAPI

posting ini bisa dikatakan gak penting. tapi ini merupakan sebuah pengakuan yang sangat berat. namun harus saya akui kesalahan tersebut.















keterangan:
* pengungsi di jogja (Kiri)
** yang katanya "pengungsi" (Kanan)

hal ini bercerita tentang ironi pengungsi merapi. d isaat para pengungsi di jogja bingung memikirkan nasib mereka setelah merapi ini kelak, saya malah asyik dengan "kesibukan" saya sebagai "pengungsi" dijakarta.

ingin rasa hati menolong mereka, dan menjadi relawan di sana. tapi...., memang kondisi tidak mengizinkan saya untuk bertahan di sana dengan kondisi demikian. dan akhirnya saya mengalaha pada keadaan.



maafkan saya JOGJA!! :'(

Selasa, 29 Desember 2009

Pers Mahasiswa

Ketika mahasiswa kehilangan wadah sebagai tempat untuk menggambarkan dan merepresentasikan perasaan mereka mengenai kehidupan, maka di pers mahasiswa inilah tempat ‘pelariannya’. Pers mahasiswa (persma) merupakan salah satu sarana pelampiasan gelora jiwa muda mahasiswa yang positif. Gelora untuk mengkritik, gelora skeptis, dan gelora nasionalis. Dalam membangun sebuah persma, kita harus memiliki idealisme yang kuat, agar tidak terbawa arus industrialisme dan kapitalisme.

Walaupun pada akhirnya banyak di antara pers mahasiswa tidak dapat mempertahankan idealisme mereka saat berada di dunia kerja nantinya. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka akhirnya harus mengalah dengan situasi yang ada. Situasi di mana mereka harus memilih mempertahankan ideologi atau mempertahankan ‘kehidupan’.

Memang sulit untuk mempertahankan idealisme dan moral pada zaman bobrok sekarang ini. Hal yang dapat kita lakukan sebagai seorang pers mahasiswa adalah tetap berpegang teguh pada idealisme pokok yaitu berpihak kepada kebenaran. Walaupun pada realitasnya hal ini sangat sulit untuk diwujudkan karena keadaan zaman yang terus berubah-ubah. Sehingga mau tidak mau kita harus bisa menjadi golongan dinamis agar tidak terlindas oleh waktu. Lagipula cara-cara yang mungkin ampuh digunakan pada zaman dulu, mungkin saja tidak bisa dipakai pada masa sekarang. Era ini sudah menggila. Kita sulit untuk membedakan mana yang hitam dan putih. Yang ada hanya abu-abu kehidupan. Masyarakat berilmu boleh jadi semakin banyak, namun pertanyaannya apakah dengan berilmu mereka semakin peduli terhadap keadaan sekitarnya? Atau malah semakin individualistis dan cenderung apatis dengan hal yang demikian?

Golongan skeptis pun semakin banyak berkembang. Tetapi ke-skeptis-an mereka lebih kepada mempertanyakan apakah dengan idealisme kita bisa makan? Ketika zaman telah berada di bawah hegemoni kapitalis, lebih baik bungkam daripada ‘mati’ (karena tidak makan) akibat idealisme.

Cara lain yang dapat digunakan untuk mempertahankan eksistensi pada masa sekarang yaitu memberikan kinerja terbaik di bidang pers sehingga dengan membaca tulisan kita, masyarakat bisa tergugah untuk melakukan perubahan dan mengerti apa yang seharusnya mereka perangi bersama. Selain itu kita juga bisa melakukan beberapa aksi, tidak hanya berbentuk demo, namun lebih kepada gerakan yang membangun, seperti seminar, diskusi umum, kuliah umum dan lain sebagainya.

Globalisasi: Dominasi Pasar dan Sublimasi Peran Negara


Ketika sebuah negara sudah membuka celah yang besar untuk menerima masuk negara lain ke dalam negaranya, saat itulah istilah globalisasi itu muncul. Negara mulai merenggangkan kekuasaannya dan digantikan oleh hegemoni pasar yang dengan cara apapun akan berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Ketakutan masyarakat akan para penguasa berganti menjadi ketakutan pada para pemilik modal dalam hal ini adalah mereka yang menguasai pasar. Ini diakibatkan adanya gerakan ‘lepas tangan’ pemerintah terhadap segala aspek di dalam kehidupan masyarakat khususnya ekonomi.

Parahnya jika kebutuhan-kebutuhan vital masyarakat juga dikuasai oleh pasar. Hal ini akan menyebabkan berlakunya hukum rimba: siapa yang kuat, dia yang menang. Ada uang, ada barang. Tidak ada uang, mendingan ke laut deh! Tragis memang, namun seperti itulah keadaannya pada saat ini. Para pengusaha menengah ke bawah tidak dapat mempertahankan eksistensinya. Dengan begitu akan semakin membesar jurang pemisah antara si empunya modal dengan si ‘empunya kaki’ (kalangan bawah.red).

Ditambah lagi dengan adanya perusahaan transnasional dari negara maju. Dengan sistem perekonomian ‘licik’, mereka membangun perusahaan mereka di negara-negara berkembang. Di satu sisi memang terlihat seperti ‘dewa penyelamat’ di suatu negara karena secara tidak langsung mereka telah memberikan fasilitas kepada masyarakat daerah tempat perusahaan itu didirikan untuk memperoleh lapangan pekerjaan, entah itu dengan upah yang besar ataupun kecil. Namun ternyata lama kelamaan mereka mulai melakukan perbuatan licik dengan mengganti para pekerjanya dengan tenaga ahli pilihan mereka. Akibatnya, masyarakat yang awalnya sangat antusias dengan perusahaan tersebut malah balik menyerang mereka. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Perusahaan yang dibangun tidak dengan serta merta dapat dihancurkan begitu saja, karena mau tidak mau mereka juga memiliki peran yang besar dalam pembangunan di daerah sekitar proyek. Walaupun itu juga merupakan sebuah bentuk ‘sogokan’ terselubung. Kasus inilah yang terjadi di PT Freeport di Irian Jaya yang sampai saat ini masih belum menemukan titik terang penyelesaian masalahnya walaupun banyak usaha akomodasi yang telah dilakukan.

Semua aspek dalam masyarakat telah terkena virus globalisasi. Bukan hanya di bidang ekonomi, politik, sosial, bahkan di bidang budaya pun mereka telah melaju tanpa terkendalikan lagi. Salah satu contohnya dapat dilihat dari industri musik di Indonesia. Saat musik bergenre melayu ‘naik daun’, para produser musik pun berlomba-lomba untuk memproduksi musik yang berjenis sama. Ini digunakan untuk memenuhi permintaan pasar.

Jika kita lebih teliti mengulik masalah globalisasi ini maka akan terlihat seperti: pasar memang memiliki dominasi dalam setiap aspek masyarakat pada saat sekarang ini. Namun pasar pastinya mengikuti permintaan yang ada yaitu permintaan konsumen. Dan dalam hal ini yang berperan sebagai konsumen adalah kita, masyarakat. Jadi sebenarnya yang mengendalikan pasar adalah kita. Suatu corak yang berlaku di masyarakat ditentukan oleh masyarakatnya sendiri. Jadi tanyakan kepada diri kita, mengapa mau jadi korban pasar? Korban industrialisasi? Korban globalisasi?

Jadi hal paling utama yang harus dilakukan untuk menekan ataupun mengurangi bias negatif dari globalisasi ini yaitu kembali kepada masyarakatnya. Walaupun peran sistem yang berlaku di negara dan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam prakteknya di lapangan. Kita mungkin tidak akan bisa terlalu anti akan globalisasi tersebut, karena fenomena ini telah mengakar kuat di peradaban dunia. Kalau kita melawan arus yang ada, bisa saja dikucilkan dari peradaban dunia nantinya. Kita harus selalu ingat bahwa negara sama halnya dengan manusia, tidak dapat berdiri sendiri tanpa negara lain. Kita hanya bisa berusaha untuk mengurangi bias negatif dari globalisasi tersebut. Mulailah dari diri sendiri. Paling tidak dapat membantu, walau hanya sedikit.

Civil Society dan Perannya dalam Demokrasi


Negara adalah suatu kawasan yang memiliki batas daerah kekuasaan, masyarakat dan mempunyai pemerintah yang berdaulat serta didukung oleh elemen-elemen penting lainnya. Ketika kita berbicara mengenai sebuah negara dengan elemen-elemen di dalamnya, maka muncullah istilah civil society yaitu salah satu bagian dari negara yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki peranan dalam pembentukkan suatu negara. Walaupun itu semua tergantung pada sistem dan ideologi yang dianut oleh sebuah negara. Misalnya, dalam sebuah negara yang menganut sistem pemerintahan otoriter, peran civil society tidak terlalu berpengaruh dalam penbentukan dan pengambilan kebijakan dalam negaranya karena semuanya pasti akan berpusat pada sang pemimpin yang notabene memiliki kekuatan penuh untuk mengatur segalanya yang berhubungan negaranya.

Namun apabila kita melihat dalam sebuah negara yang menganggap dirinya adalah penganut sistem dan ideologi demokrasi, civil society ini menjadi tokoh, aktor, dan objek penting dalam pengembangan negara. Mereka telah mendapat posisi yang diperhitungkan, berada di antara pasar dan pemerintah. Sebuah civil society dibangun berdasarkan landasan ide yang mereka anggap benar. Dari landasan itulah mereka berupa untuk membangun negara dengan caranya sendiri. Yang pasti mereka melakukan gerakan berdasarkan pada asas-asas yang mereka anut baik dilakukan untuk kepentingan seluruh masyarakat maupun untuk kepentingan golongannya saja. Namun mereka tetap tidak berada di bawah kendali pasar dan pemerintah.


Dari sedikit uraian di atas, jelas bahwa civil society memiliki peran dan posisi yang penting dalam demokrasi. Karena hanya di dalam demokrasilah sebuah civil society itu dapat tumbuh dan berkembang. Mereka bebas mengeluarkan pandangan dan gagasan yang dianggap benar. Mereka bebas mengatakan ‘tidak’ jika itu bertentangan dengan pemikiran komunitas atau golongannya.

Walaupun tidak jarang para civil society ini melakukan tindakan-tindakan destruktif dalam penerapan demokrasinya seperti merusak gedung-gedung, bangunan, fasilitas umum dan berbagai tindakan anarkis lainnya. Salah satu contohnya seperti demonstrasi menuntut pemekaran daerah di Tapanuli beberapa waktu lalu yang menyebabkan Gubernur Sumatera Utara, Abdul Aziz, meninggal dunia akibat serangan jantung. Melihat kejadian tersebut maka akan muncul pertanyaan, apakah ini yang dinamakan demokrasi? Kalau memang tidak, jadi demokrasi yang seperti apa yang semestinya kita terapkan?


Menjawab pertanyaan di atas, kita harus kembali ke konsep dasar demokrasi di Indonesia. Kita tahu bahwa Indonesia telah memilih Pancasila sebagai landasan atau acuan dalam penerapan demokrasinya. Jadi kita harus selalu berpegang teguh pada setiap sila yang terdapat di Pancasila tersebut, yakni menjadikan asas religiusitas sebagai pedoman kita dalam mengambil keputusan; menyadari bahwa setiap orang memiliki hak-hak sebagai manusia yang telah mereka bawa dari lahir; meyakini bahwa kita (rakyat.red) ibarat sebuah lidi. Apabila kita berdiri sendiri akan dapat dipatahkan oleh angin sekalipun. Esensi dan fungsi dari kehidupan pun tidak akan kita temui apabila kita sendirian. Namun apabila kita bersatu, onggokan sampah setinggi gunung pun bisa kita bersihkan dengan perlahan-lahan tetapi pasti. Itulah keuntungan hidup bermasyarakat; menempatkan kepentingan bersama di atas egoisitas, walaupun dalam penerapannya hal ini akan sangat susah untuk direalisasikan karena setiap manusia pasti memiliki egonya masing-masing; dan yang terakhir yaitu meyakini bahwa setiap orang mempunyai hak keadilan untuk menyampaikan pandangan mereka. Itulah kira-kira yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki demokrasi di Indonesia. Mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri sebagai bagian dari negara Indonesia.

Filsafat sebagai Pintu Kekritisan Bersama

“Nggak semua yang lo liat itu bener.” Ini adalah slogan dari sebuah iklan di televisi yang akan menjadi acuan kita untuk membahas filsafat di dalam dunia jurnalistik. Bahwa tidak semua yang ada di lapangan, harus kita paparkan secara gamblang dan datar. Namun kita juga harus melihat secara luas dan mendalam sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemberitaan. Para jurnalis juga harus bisa melakukan framing yang dapat mengarahkan para konsumen berita kepada arti yang sesungguhnya.

Di dalam dunia jurnalistik, informasi akan disampaikan dalam bentuk bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Pada hakikatnya bahasa itu memiliki keterbatasan saat digunakan. Apalagi jika bahasa diungkap dengan menggunakan kata, maka akan terjadi pen-generalisasian arti. Hal ini dapat mengakibatkan ambiguitas dalm pemaknaannya. Karena kadang-kadang sebuah kata mempunyai lebih dari satu arti sehingga persepsi yang satu bisa saja berbeda dengan persepsi yang lain.

Misalnya ‘merah’. Kata ‘merah’ ini digunakan untuk mewakili warna. Namun warna yang benar-benar ‘merah’ itu sampai sekarang kita belum mengetahui batasannya. Warna yang sedikit lebih muda atau sedikit lebih tua pun kita namai warna ‘merah’. Menurut pengetahuan, mata manusia dapat membedakan tujuh juta warna yang berlainan. Jadi kata itu mempunyai keterbatasan jumlah untuk mewakili objeknya.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengkritisi sebuah berita. Pertama, kita harus bisa menjaga “jarak” dengan objek pemberitaan. Ini bertujuan untuk menjaga kenetralan antara si wartawan dengan objek pemberitaan sehingga tidak terjadi keberpihakan di dalam berita tersebut. Walaupun dalam prakteknya sangat sulit bagi seorang wartawan yang notabene juga seorang manusia untuk melakukannya. Setiap manusia pasti memiliki sisi objektivitas dan subjektivitas. Batas antara subjektivitas dan objektivitas itu sendiri sangatlah tipis.

Cara yang kedua yaitu menentukan tempat kita “berpijak” atau landasan, sebelum kita menginformasikan sesuatu. Kita harus tahu diri dulu karena keberhasilan komunikasi kita dengan orang lain bergantung pada keefektifan komunikasi kita dengan diri sendiri. Sebagai seorang jurnalis, landasan kita adalah kode etik jurnalistik. Jadi sebagai seorang jurnalis, kita harus mengktirisi sebuah fenomena, kejadian, ataupun ide berdasarkan ketentuan yang ada. Kita boleh mengkritik sesuatu dengan sebebas-bebasnya namun masih dalam konteks kewajaran, karena sesuatu yang berlebih-lebihan juga tidak baik adanya. Dan setiap kebebasan pasti mempunyai batasan.

Minggu, 11 Januari 2009

The Poor Palestine

Kita pasti sudah mendengar kabar dari Palestina sana. Agresi militer yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina benar-benar tidak manusiawi. Padahal itu sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun, sampai sekarang peperangan itu belum juga berakhir dan ini adalah penyerangan terbesar selama 10 tahun terakhir. Perang yang banyak memakan korban dari pihak Palestina itu sebenarnya tidak seimbang. Pihak Israel itu menyerang memakai alat-alat yang serba canggih karena mendapat backing dari negara-negara dunia yang boleh dikatakan memiliki kuasa (bahkan adikuasa) di dunia. Sedangkan Palestina hanya menyerang dengan menggunakan senjata sederhana dan negara pendukung Palestina hanya negara yang boleh dikatakan keberadaannya tidak begitu penting. Negara yang hanya dapat membantu dengan doa karena takut kalau terlalu radikal membela maka akan dikucilkan dari peradaban dunia. Lagipula para zionis-zionis itu pasti sudah menyebar di seluruh dunia. Dan biasanya di setiap negara, para zionis itu memegang peranan penting, baik itu mungkin di bidang ekonomi atau bahkan pemerintahan. Jadi agak sulit memang membantu negara Palestina secara menyeluruh.

Kalau kita telusuri dari asal mula perpecahan itu. Perpecahan itu sendiri terjadi karena para Yahudi itu (Zionis-International) ingin memusatkan kekuasaanya di Palestina. Mereka ingin menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaan Yahudi. Mereka kemudian memindahkan anggota-anggota Konspirasinya ke Palestina dan berusaha mengusir masyarakat asli Palestina dari tanah mereka sendiri. Sebenarnya mereka memiliki alasan khusus mengapa kota Palestina yang mereka incar untuk dijadikan pusat kekuasaan mereka. Yaitu karena nenek moyang mereka dahulunya (Peter Sang Ksatria) pernah berkata bahwa Masjidil Aqso itu terdapat harta Nabi Sulaiman as. dan mereka ingin menguasai harta tersebut. Namun sampai sekarang, setelah dilakukan penggalian di pondasi Masjidil Aqso, harta tersebut tidak ditemukan sama sekali. Tapi mereka tetap teguh pendirian untuk mengambil alih kota Palestina dan membangun Haikal Sulaiman di atas puing Masjidil Aqso yang akan mereka hancurkan kelak. Bangunan itu nantinya akan dijadikan singgasananya Sang Raja Israel yang dinanti-nanti oleh para keturunan pembunuh Nabi-nabi Allah ini yang kita kenal dengan sebutan Dajjal. Memang, hanya kepada Allah-lah tempat kita berlindung.

Dewan keamanan PBB sudah berapa kali melakukan menyelesaian terhadap masalah ini. Tetapi tidak menemukan titik terang, sampai presiden kebanggaan Palestina, Yaser Arafat, mangkat. Memang belum terlihat upaya yang begitu nyata yang dilakukan oleh Dewan Keamanan PBB terhadap masalah ini. PBB, sampai pergantian Sekjen saat ini (Bang Ki Moon) seperti masih menjadi “boneka” bagi AS. Dan AS yang notabene memihak ke Israel juga terlihat masih ingin “bermain-main” dengan negara Palestina.

Jujur… Mendengar berita tentang Palenstina itu, hatiku miris. Bayangkan, sudah berapa banyak korban yang berjatuhan. Orang-orang yang tidak berdosa wafat, anak-anak kecil menangis mencari orang tuanya, anak-anak kecil menjerit menahan sakit terkena serpihan-serpihan material bom, orang-orang yang masih bisa hidup pun disiksa dengan ditutupnya jalur tempat penyaluran kebutuhan pokok. Sungguh!! Ternyata memang ada orang yang berhati jahat seperti itu… Bagaimana kalau keadaannya kita balik? Para Zionis itu disiksa seperti yang mereka lakukan terhadap Palestina. Apa yang akan mereka lakukan? Huf! Biarkan Allah saja yang membalasnya.