Tampilkan postingan dengan label IA in action. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IA in action. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2009

3…2…1…Happy New Year!

Apa yang aku lakukan untuk menyambut tahun baru 2009? Ini dia…

Sebelumnya aku tidak mempunyai rencana apa-apa. Hanya ingin menghabiskan waktu dengan menonton televise di kosan saja. Tapi kebetulan temanku datang dari Bandung dan mengajakku ke Prambanan (lihat posting sebelumnya.red). Di sana aku bertemu dengan kakak kelasku. Mereka mengajak kami untuk merayakan pergantian tahun bersama mereka. Kami yang tidak mempunyai acara menerima tawaran menarik tersebut.

Kami melaksanakan acaranya di sekre IA SMANSA. Acaranya sih simple aja, makan-makan, kemudian dilanjutkan dengan acara bakar-bakar jagung dan pisang. Namun ada beberapa yang mencari kesibukan masing-masing. Yang main gitar. Ada yang main kartu. Dan ada yang uni-uni yang lagi masak.

Mmm… Enak! Kebersamaan kita juga benar-benar terasa pada saat itu. Jadi inget kampung halaman. Hiks…hiks…

Waktu begitu cepat berlalu. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12.59. 60 detik lagi. Jadi deg-degan nih! Sebentar lagi tahun baru. Apa yang akan terjadi di tahun itu? Entahlah… Kita jalani saja.

Kalian sudah siap… 3…,2…,1…,Happy New Year!

Hiks… Selamat tinggal tahun 2008. Selamat datang 2009…

Goes to Prambanan…




Aku ke sana bersama dua orang temanku. Aku belum pernah ke Prambanan sebelumnya. Kebetulan temanku, Vera, dari Bandung datang ke Jogja untuk berlibur dan dia meminta aku dan Ayu (teman di Jogja) untuk menemaninya ke Prambanan. Kami ke sana naik Trans Jogja. Kita pergi ke sana benar-benar tidak tepat waktu. Berhubung hari ini adalah tanggal 31 Desember dan besok tahun baru, pasti orang-orang beramai-ramai mengunjungi tempat-tempat wisata untuk merayakan pergantian tahun tersebut. Jalan penuh sesak, bus Trans pun pada penuh-penuh. Kami pun terpaksa menunggu bus berjam-jam.

Akhirnya kami sampai di daerah Prambanan. Dari shelter Trans kami naik becak ke depan gerbang Prambanan. Di sana sudah banyak terlihat pedagang-pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Sesampai di loket, kami membeli karcis. Terus terang aku terkejut mengetahui karcis masuk candi harganya 12.500. Menurut aku, harganya tidak sebanding dengan yang akan dilihat nantinya. Padahal kita hanya bisa melihat bangunan utamanya (sedang dalam perbaikan pasca gempa Jogja), tidak diperbolehkan masuk. Kemudian patung-patung budha di dalam beberapa candi sudah banyak yang hilang. Benar-benar Indonesia! Yang tidak menghargai sejarah. Masih jelas dalam ingatan, peristiwa pemboman Candi Borobudur beberapa tahun silam. Terlihat betapa bobroknya mental rakyat Indonesia. Aku berharap bisa mengubah mental tersebut. Yang pasti memulai dari diri sendiri dulu.

Aku berkeliling di sepanjang Candi Prambanan tersebut. Kami pun tak lupa untuk mendokumentasikan moment tersebut. Huff! Dan lagi-lagi aku yang jadi seksi dokumentasi. Memang, aku agak malas difoto, jadi it’s OK for me, right! Hanya sedikit bangunan candi yang masih bisa dimasuki, karena sebagian besar bangunannya rusak.

Candi-candi kecil di sekeliling candi utama susah banyak yang roboh. Aku tidak habis pikir, mengapa candi tersebut masih dibuka untuk umum. Kalau misalnya bangunan candi tiba-tiba saja roboh, mungkin akan memakan korban jiwa. Niat untuk berwisata, malah kehilangan nyawa. Itu sangat tidak lucu.

Kalau dibandingkan dengan Candi Borobudur, Candi Prambanan memiliki ukiran yang lebih detail. Jadi relief yang terdapat pada dinding-dinding candi lebih detail bila dibandingkan dengan Candi Borobodur.

Tak terasa hari sudah mulai sore. Kami memutuskan untuk pulang. Kami takut kalau pulang terlalu malam, jalanan akan macet. Kami pun berjalan menuju halte Trans Jogja. Oh ya, tadi kami kebetulan bertemu dengan kakak kelas di SMA dulu. Jadi kami memutuskan untuk pulang bareng.

Yeah, that’s all!! Sampai ketemu di posting berikutnya…

Pantai Oh Pantai…

Ini yang kedua kalinya aku pergi ke pantai di Jogja. Sebelumnya aku sudah pergi dengan Forkommi (Forum Komunikasi Mahasiswa Minang). Nah, sekarang aku pergi bersama IA (Ikatan Alumni) SMANSA Padang Panjang. Kali ini kami akan pergi ke Pantai Krakal dan Sundak. Jarak yang ditempuh dari UGM ke Pantai tersebut kira-kira memakan waktu 2 jam. Dan itu merupakan perjalanan yang cukup melelahkan. Kami janjian kumpul pukul 08.00. Tapi karena kami anak-anak Indonesia (yang notabene suka ngaret), akhirnya kami berangkat pukul 9 lewat-lewat dikit. Kami berangkat dengan menggunakan bus ber-‘NSP’. Bunyinya “nyeot…nyeot…krik..”. But, it’s OK. Yang jelas having fun,yeah!

Di perjalanan kita nyanyi bareng. Mulai dari nyanyi D’Masiv, ST 12 (parah!), Nidji, sampai lagu-lagu minang kami bawakan. Perjalanan jadi tidak membosankan. Walaupun ada sih yang tidur. Jalan menuju pantai berkelok-kelok. Bagi yang belum terbiasa berjalan jauh dengan menggunakan bus, mungkin akan mual (masuk angin).

zzztt...

Tak terasa kita sudah sampai di gerbang menuju pantai. Kami pun membayar uang masuk dan uang parkir bus (pikiran kami saat itu, ternyata keluar dari Pantai Krakal kami ditagih tukang parkir). Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pantai. Awalnya kami memutuskan ke Pantai Krakal. Saat itu Krakal sedang ramai-ramainya. Ternyata Pantai Krakal tak seindah dan sebersih yang dibayangkan. Banyak sampah-sampah yang bertebaran.

sampah yang bertebaran di pantai kerakal

Setelah berfoto-foto sebentar, kamipun memutuskan untuk pindah ke pai tetangga, maksudnya Pantai Sundak.

Pantai Sundak kira-kira 15 menit dari Pantai Krakal. Dan wow… benar-benar pantai yang indah. Walau masih ada sampah yang bertebaran, tetapi tidak separah di pantai sebelumnya. Kami pun mulai menurunkan barang-barang dari atas bus dan mencari tempat untuk duduk. Menggelar tikar dan makan. Kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 11.35 dan perutku sudah bunyi-bunyi (kriuuuuk!). Akhirnya kita makan…

mmm... mak nyos!!

Perut sudah kenyang, apa yang akan aku lakukan lagi? Aha…! Nyebur ke laut. Saat pergi ke pantai pertama kali, aku tidak sempat nyebur ke laut. Ombak saat itu sangat tinggi karena sedang musim angin. Apalagi air di Pantai Depok itu kotor. Jadi sekarang aku puas-puasin main air di laut. Widi…! Lasuah… Rang ndak nio pulang do,ma… Ancak-ancak kironyo Pantai di Jogja ko. Baa lai ko? Lah takabek ha, ma!![1] Kembali ke bahasa Indonesia, benar-benar seru. Memang matahari saat itu sedang terik-teriknya, tapi tidak membuat surut semangat kami, para pemuda minang. Merdeka! (kambuh) Tapi hanya beberapa orang yang ikut bermain bersamaku. Yang lain menunggu matahari agak condong (menunggu sore).

semangat pemuda-pemudi minang

Setelah capek bermain, aku dipanggil oleh uda-uda untuk kembali ke tenda. Soalnya akan diadakan beberapa games. Permainannya antara lain memindah-mindahkan karet gelang, main tali berantai, dan main lempar-lempar air. Seru!! Kelompokku hanya sekali memenangkan games, yaitu pada permainan lempar-lempar air. Beberapa rangkaian acara telah selesai. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku kembali nyebur ke laut. Kami pun bermain polo air (benar nggak nama permainannya? Atau bola air?). Pertandingan berlangsung sangat sengit. Awalnya tim-ku memimpin permainan, tapi karena kurang kompak akhirnya tim-ku kalah dengan skor 12-10.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Energiku sudah mulai habis. Akupun isi ‘bensin’, maksudnya makan. Setelah selesai makan, aku membersihkan badan. Mandi dan sholat. Entah apa yang dikerjakan oleh teman-temanku yang lain. Sepertinya mereka asyik berfoto ria.

Tak terasa tiba saatnya untuk kita pulang. Sebelum pulang, kami melihat sunset dulu dan berfoto-foto. Huff..! Benar-benar hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Andai waktu dapat berputar kembali (sok nyeni!). Cieeeeeeeeee…!

Sampai ketemu di IA SMANSA’s Activity berikutnya. Ca…….


[1] Widi…! Seru… aku nggak mau pulang, ma… Ternyata pantai di Jogja bagus-bagus. Aduh gimana nih?